Sleman, 30 Juni 2026 – Hari kedua pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kelembagaan dan Pengembangan Usaha Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) "Cahaya Selo" di Kalurahan Selomartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, diisi dengan penguatan tata kelola kelembagaan dan pengelolaan keuangan yang profesional. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Prof. Junaidi, M.Si., Ak., CA., CSRS., Guru Besar Bidang Audit Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) yang memberikan pembekalan mengenai tata kelola BUM Desa berbasis praktik bisnis modern dan prinsip Good Corporate Governance (GCG).
Bimtek yang berlangsung di Ruang Rapat Lantai II Kalurahan Selomartani tersebut diikuti oleh jajaran pengurus BUMKal "Cahaya Selo", pemerintah kalurahan, Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), pendamping desa, pelaku UMKM, Gapoktan, LKM, serta unsur masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan ekonomi lokal. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintah Kalurahan Selomartani dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pengelola BUMKal agar mampu mengelola usaha secara profesional, transparan, dan berkelanjutan.
Dalam pemaparannya, Prof. Junaidi menegaskan bahwa BUM Desa tidak lagi dapat dikelola secara konvensional. Sebagai badan hukum yang memiliki fungsi sosial sekaligus bisnis, BUM Desa harus menerapkan tata kelola modern sehingga mampu bersaing, menghasilkan keuntungan, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat desa.
Menurutnya, BUM Desa merupakan mesin penggerak ekonomi konstitusional yang memiliki lima fungsi utama, yaitu menciptakan nilai ekonomi produktif, meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes), menyediakan layanan sosial, memberdayakan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, serta mendorong tumbuhnya berbagai potensi ekonomi lokal.
Prof Junaidi juga menjelaskan bahwa keberhasilan BUM Desa sangat ditentukan oleh penerapan prinsip Good Corporate Governance (GCG) yang meliputi Transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi, dan Fairness (TARIF) . Kelima prinsip tersebut menjadi landasan utama dalam membangun kepercayaan masyarakat sekaligus menjaga profesionalisme pengelolaan usaha desa.
Ia mengingatkan bahwa campur tangan yang berlebihan dalam operasional bisnis akan menghambat inovasi dan mengurangi daya saing BUM Desa. Oleh karena itu, diperlukan pemisahan fungsi yang tegas antara Pemerintah Kalurahan sebagai pemilik modal, pengawas sebagai pengontrol, dan pelaksana operasional sebagai pengelola usaha sehari-hari. Model tata kelola tersebut dinilai mampu menciptakan organisasi yang sehat, mandiri, dan akuntabel.
Selain aspek kelembagaan, peserta juga memperoleh materi mengenai penyusunan dokumen legalitas, penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), sistem pelaporan berjenjang, penyusunan program kerja tahunan, hingga mekanisme monitoring dan evaluasi berbasis indikator kinerja. Seluruh materi diarahkan agar pengurus BUMKal memiliki standar pengelolaan yang sesuai dengan ketentuan PP Nomor 11 Tahun 2021 tentang Badan Usaha Milik Desa .
Diskusi berlangsung interaktif. Para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi mengenai penyusunan laporan keuangan, pengelolaan aset, tata kelola organisasi, hingga strategi memperkuat kelembagaan BUMKal agar mampu berkembang menjadi badan usaha desa yang sehat dan dipercaya masyarakat.
Lurah Selomartani, Sigit Tri Suhartoyo , menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya bimtek selama dua hari tersebut. Menurutnya, peningkatan kapasitas pengurus merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan BUMKal "Cahaya Selo". Dengan bekal pengetahuan yang diperoleh dari para narasumber, pengelola diharapkan mampu meningkatkan profesionalisme, memperluas usaha, serta memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat dan Pendapatan Asli Kalurahan.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kalurahan Selomartani menunjukkan komitmennya untuk membangun BUMKal yang tidak hanya kuat secara kelembagaan, tetapi juga unggul dalam tata kelola, inovasi, dan daya saing usaha. Penguatan kapasitas SDM menjadi langkah strategis agar BUMKal mampu menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi desa yang mandiri, adaptif, dan berkelanjutan di tengah tantangan ekonomi yang semakin dinamis.

Posting Komentar