Sleman – Ruang pertemuan yang biasanya diisi diskusi program pembangunan kali ini terasa sedikit berbeda. Sesekali terdengar gelak tawa ketika peserta saling menyampaikan pengalaman mereka saat mengambil foto kegiatan yang "bagus menurut fotografernya, tetapi ternyata yang terlihat justru punggung narasumber." Di kesempatan lain, muncul candaan mengenai berita yang selesai ditulis, namun lupa menyebutkan siapa, kapan, dan di mana kegiatan berlangsung.
Suasana hangat dan penuh keakraban itu mewarnai Koordinasi Lintas Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kapanewon Gamping dan Kapanewon Ngaglik yang bertujuan meningkatkan kualitas publikasi kegiatan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan tersebut dipandu langsung oleh Agung Margandhi, SE., MM., Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Sleman , serta dihadiri Edy Kurniawan , Muhammad Arman selaku Pendamping Desa Kapanewon Ngaglik, dan Yoshep Setyawan selaku Pendamping Desa Kapanewon Gamping.
Bagi para pendamping, kegiatan ini bukan sekadar belajar menulis berita. Lebih dari itu, mereka diajak memahami bahwa setiap aktivitas di kalurahan memiliki cerita yang layak diketahui.
“Jangan sampai kegiatan yang sudah dirancang dengan baik, melibatkan banyak orang, bahkan menghasilkan manfaat besar, hanya berhenti menjadi foto di galeri ponsel,” ujar Agung Margandhi yang langsung disambut anggukan para peserta.
Menurutnya, publikasi merupakan bagian dari akuntabilitas sekaligus jembatan komunikasi antara pemerintah kalurahan dengan masyarakat. Ketika sebuah kegiatan dipublikasikan secara baik, masyarakat dapat mengetahui proses pembangunan, memahami manfaat program, sekaligus terdorong untuk ikut berpartisipasi.
Dalam sesi materi, Agung mengajak peserta memahami bahwa sebuah berita yang baik tidak harus menggunakan bahasa yang rumit. Yang jauh lebih penting adalah menyampaikan informasi secara lengkap, akurat, mudah dipahami, serta mampu menghadirkan sisi kemanusiaan di balik setiap kegiatan.
“Orang yang membaca berita bukan hanya ingin mengetahui apa yang dilakukan, tetapi juga ingin merasakan semangat orang-orang yang melakukannya,” ungkapnya.
Suasana semakin hidup ketika memasuki pembahasan media sosial. Mulai dari teknik memilih foto terbaik, menyusun caption yang komunikatif, penggunaan tagar yang tepat, hingga cara membangun identitas digital pendamping desa dibahas secara santai namun aplikatif.
Sesekali peserta saling menunjukkan hasil dokumentasi kegiatan di genggaman telepon masing-masing. Ada yang menyampaikan pujian karena berhasil menangkap momen spontan masyarakat, ada pula yang menjadi bahan candaan karena hampir semua fotonya ditampilkan peserta sedang membelakangi kamera.
Gelak tawa itu justru membuat suasana belajar menjadi lebih cair. Dari pengalaman-pengalaman sederhana tersebut lahirlah banyak pembelajaran mengenai pentingnya dokumentasi yang bercerita, bukan sekadar menjadi arsip.
Muhammad Arman dan Yoshep Setyawan turut berbagi pengalaman mendampingi berbagai kegiatan pemberdayaan di wilayah Ngaglik maupun Gamping. Mereka menyampaikan bahwa tantangan di lapangan tidak hanya memastikan program berjalan dengan baik, tetapi juga bagaimana keberhasilan tersebut dapat diketahui secara luas melalui publikasi yang menarik dan mudah dipahami.
Sementara itu, Edy Kurniawan menambahkan bahwa kolaborasi lintas kapanewon menjadi ruang yang sangat bermanfaat untuk saling belajar, bertukar pengalaman, sekaligus memperkaya ide-ide kreatif dalam menyampaikan informasi pembangunan kepada masyarakat.
Koordinasi lintas wilayah ini sekaligus menampilkan wajah baru pendamping desa yang tidak hanya hadir sebagai fasilitator pembangunan, tetapi juga sebagai komunikator yang mampu mengangkat berbagai praktik baik dari kalurahan ke ruang publik.
Di era digital, kemampuan menulis berita dan mengelola media sosial menjadi salah satu kompetensi penting bagi Tenaga Pendamping Profesional. Informasi yang dikemas dengan baik bukan hanya menjadi dokumentasi kegiatan, tetapi juga menjadi inspirasi bagi kalurahan lain untuk terus berinovasi.
Melalui kegiatan ini, para pendamping diharapkan semakin percaya diri menghasilkan berita yang berkualitas, menghadirkan dokumentasi yang lebih hidup, serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi, transparansi, dan penguatan partisipasi masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi yang terus terbangun antara Pendamping Desa Gamping dan Ngaglik, optimisme pun semakin menguat bahwa semakin banyak kisah baik dari kalurahan di Kabupaten Sleman yang akan hadir di ruang digital. Sebab, pembangunan yang baik tidak hanya perlu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, namun juga perlu diceritakan dengan cara yang mampu menginspirasi banyak orang.

Posting Komentar