Sleman – Penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) tidak lagi cukup hanya mengandalkan penyertaan modal atau dukungan pendanaan. Di tengah persaingan usaha yang semakin kompetitif, BUMDES dituntut memiliki tata kelola yang profesional, sumber daya manusia yang kompeten, serta identitas usaha yang kuat agar mampu menjadi motor penggerak ekonomi desa.
Semangat tersebut menjadi fokus dalam Workshop Penguatan Kelembagaan BUMDES: Strategi Branding Menuju BUMDES Berdaya yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bekerja sama dengan Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Selasa (21/7/2026), di Pendopo Puri Mataram, Tridadi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti sekitar 30 direktur BUMDES dari berbagai kalurahan di Kabupaten Sleman.
Workshop dibuka oleh Prof. Dr. Puji Fauziah, yang menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam mendampingi pembangunan ekonomi desa melalui penguatan kelembagaan BUMDES.
"BUMDES harus tumbuh sebagai lembaga ekonomi yang profesional dan berkelanjutan. Penguatan kelembagaan tidak hanya berbicara mengenai modal, tetapi juga tata kelola organisasi, kualitas sumber daya manusia, inovasi, serta kemampuan membangun identitas usaha yang dipercaya masyarakat," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam menciptakan BUMDES yang adaptif terhadap perkembangan zaman sekaligus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat desa.
Materi pertama disampaikan oleh Murtodho, Koordinator Provinsi Pendamping Desa DIY, yang menyoroti pentingnya strategi branding sebagai fondasi dalam membangun daya saing BUMDES.
Menurutnya, branding bukan sekadar menciptakan logo atau slogan, melainkan membangun kepercayaan publik melalui kualitas pelayanan, konsistensi produk, dan nilai yang ditawarkan kepada masyarakat.
"Branding adalah janji kepada konsumen. Ketika masyarakat percaya terhadap BUMDES, maka produk desa akan memiliki nilai tambah dan roda ekonomi lokal akan bergerak lebih cepat," jelasnya.
Ia juga memaparkan sejumlah praktik baik BUMDES di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berhasil meningkatkan nilai usaha setelah memperkuat identitas merek, strategi komunikasi publik, dan pemasaran digital secara konsisten.
Sesi berikutnya menghadirkan Muhamad Rofiq, dosen Universitas Negeri Yogyakarta, yang memaparkan strategi pengembangan usaha berbasis potensi lokal dan transformasi digital.
Ia menekankan pentingnya pemetaan aset desa sebagai dasar penyusunan model bisnis BUMDES yang fokus dan berorientasi pasar.
"BUMDES tidak harus mengelola semua jenis usaha. Yang terpenting adalah memilih sektor yang memiliki keunggulan kompetitif, memperkuat jejaring kemitraan, serta memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas akses pasar," paparnya.
Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah, BUMN, sektor swasta, hingga platform digital menjadi faktor penting agar BUMDES mampu berkembang secara berkelanjutan.
Suasana diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai persoalan riil yang dihadapi pengelola BUMDES di lapangan.
Direktur BUMDES Sendang Makmur, Kalurahan Sendangadi, mengusulkan agar UNY memberikan pendampingan yang lebih sistematis, termasuk pengembangan aplikasi keuangan BUMDES yang sederhana, mudah digunakan, dan memenuhi prinsip akuntabilitas.
Sementara itu, BUMDES Karta Sembada, Kalurahan Sidokarto, mengangkat persoalan keterbatasan sumber daya manusia. Kesulitan mendapatkan tenaga profesional yang bersedia mengelola BUMDES dinilai menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan usaha desa. Mereka berharap adanya pendampingan langsung terkait rekrutmen, pelatihan, dan peningkatan kapasitas pengurus.
Persoalan lain disampaikan oleh BUMDES Margodadi, yang menyoroti pentingnya kemitraan dalam meningkatkan penilaian kinerja BUMDES. Meski kerja sama menjadi salah satu indikator dengan bobot tinggi, pelaksanaannya di lapangan tidak mudah karena terbatasnya akses terhadap mitra strategis. Selain itu, pengelolaan usaha pada lahan Tanah Kas Desa (TKD) juga masih menghadapi kendala perizinan yang membutuhkan dukungan percepatan dari instansi terkait.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, para narasumber menyatakan komitmen UNY untuk membangun kemitraan jangka panjang bersama BUMDES melalui program pendampingan kelembagaan, riset terapan, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, inovasi digital, hingga fasilitasi jejaring kerja sama lintas sektor.
Workshop ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan BUMDES sebagai pilar pembangunan ekonomi desa. Dengan tata kelola yang semakin profesional, strategi branding yang kuat, serta kolaborasi yang berkelanjutan, BUMDES diharapkan mampu naik kelas menjadi lembaga ekonomi desa yang tangguh, inovatif, dan berdaya saing, sekaligus menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari desa.

Posting Komentar