Sleman, 14 April 2026 – Suasana hangat dan penuh semangat tampak di Kalurahan Glagaharjo saat tim monitoring dan evaluasi (monev) dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman melakukan peninjauan langsung ke unit usaha BUMKal Wijasena, Selasa (14/4).
Kegiatan monitoring ini dipimpin oleh Siska Wulandari, S.Kom., M.M bersama Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Sleman. Kehadiran tim disambut langsung oleh Lurah Glagaharjo, Suroto, S.H, didampingi jajaran pamong kalurahan serta pengurus BUMKal Wijasena.
Fokus utama monev kali ini adalah meninjau pelaksanaan program ketahanan pangan melalui pembangunan dan pengembangan unit usaha peternakan puyuh yang dikelola oleh BUMKal Wijasena.
Program ini merupakan bagian dari pemanfaatan Dana Desa Tahun Anggaran 2025 dengan nilai penyertaan modal sebesar Rp204 juta, yang telah direalisasikan secara penuh dengan capaian fisik 100 persen .
Di lokasi, tim monev melihat langsung kondisi kandang puyuh yang telah berdiri kokoh seluas 200 meter persegi, lengkap dengan fasilitas pendukung serta kapasitas ternak mencapai lebih dari 6.000 ekor puyuh .
Ketua tim monitoring, Siska Wulandari, menyampaikan apresiasi atas capaian yang telah diraih BUMKal Wijasena. Menurutnya, program ini tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik, tetapi harus terus didorong hingga menghasilkan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.
“Kami melihat ini sudah berjalan baik dari sisi perencanaan hingga realisasi. Tantangan berikutnya adalah bagaimana pengelolaan usaha ini benar-benar produktif, berkelanjutan, dan mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan kalurahan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan manajemen usaha, pencatatan keuangan yang tertib, serta monitoring berkala agar unit usaha ini terus berkembang.
Sementara itu, Lurah Glagaharjo, Suroto, S.H menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan pendampingan dari Dinas PMK dan TAPM Kabupaten Sleman. Ia menegaskan bahwa BUMKal menjadi salah satu pilar penting dalam menggerakkan ekonomi kalurahan.
“Kami berharap melalui kegiatan seperti ini, kami tidak hanya dievaluasi, tetapi juga mendapatkan arahan dan penguatan. BUMKal Wijasena ini kami dorong menjadi motor penggerak ekonomi, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan di Glagaharjo,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa keberadaan usaha peternakan puyuh ini diharapkan mampu membuka peluang kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat kemandirian ekonomi desa.
Diskusi antara tim monev, pemerintah kalurahan, dan pengurus BUMKal berlangsung cair dan konstruktif. Berbagai masukan strategis muncul, mulai dari penguatan tata kelola usaha, optimalisasi produksi, hingga peluang pengembangan pasar hasil ternak.
Monitoring dan evaluasi ini menjadi momentum penting, tidak hanya sebagai bentuk pengawasan, tetapi juga sebagai ruang belajar bersama untuk memastikan bahwa setiap rupiah Dana Desa benar-benar berdampak bagi kesejahteraan masyarakat.
Dengan langkah yang semakin terarah, BUMKal Wijasena diharapkan mampu tumbuh menjadi contoh praktik baik pengelolaan usaha desa yang profesional, akuntabel, dan berkelanjutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar