Selasa, 16 Desember 2025

Dari Mororejo untuk Pangan Desa: Cerita BUMDes Moro Joyo yang Terus Bertumbuh

 

Mororejo,Sleman, 16 Desember 2026 - Di Kalurahan Mororejo, geliat pembangunan desa tak selalu datang dari proyek besar atau gedung megah. Kadang, ia tumbuh pelan-pelan dari kandang ayam yang sedang dibangun, kolam ikan di lahan yang dulu terbengkalai, hingga gabah petani yang kini kembali ke warga dalam bentuk beras.

Semua itu dijalankan oleh BUMDes Moro Joyo, badan usaha milik Kalurahan Mororejo yang berdiri sejak tahun 2018. Dipimpin oleh Agus Nuryanto, BUMDes ini terus berupaya mencari jalan agar usaha desa benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Tahun ini menjadi momentum penting bagi BUMDes Moro Joyo. Melalui Dana Desa sebesar Rp235 juta, BUMDes mendapat amanah untuk mengelola program ketahanan pangan. Dana tersebut dimanfaatkan untuk mengembangkan perikanan nila dan bawal, serta peternakan ayam petelur dua sektor yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari warga.

Saat ini, proses pembuatan kandang ayam petelur masih berlangsung. Rencananya, sekitar 500 ekor ayam akan segera menempati kandang tersebut. BUMDes bekerja sama dengan pihak ketiga dalam pengadaan anakan ayam, pakan, hingga obat-obatan. Jika semua berjalan sesuai rencana, dalam waktu sekitar satu bulan, ayam-ayam tersebut sudah siap memasuki masa produksi telur.

Tak hanya beternak, BUMDes Moro Joyo juga mulai bergerak di sektor pembelian gabah langsung dari petani Mororejo. Gabah dibeli saat panen, kemudian dijemur, digiling, dan dijual kembali dalam bentuk beras.

Beras ini dipasarkan ke masyarakat, pasar tradisional, hingga minimarket. Skema sederhana ini memberi dua keuntungan sekaligus: petani mendapat kepastian pasar, sementara warga memperoleh beras lokal dengan harga yang lebih terjangkau.

Di sudut lain Mororejo, sebuah lahan yang dulu mangkrak kini mulai hidup kembali. BUMDes Moro Joyo membangun kolam ikan dari nol, memanfaatkan sumber air alami dari mata air dan aliran sungai.

Rencananya, kolam ini akan diisi bibit ikan sekitar 56 kilogram untuk pembesaran ikan nila dan bawal. Hasil panen nantinya diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan embung pemancingan yang rutin beroperasi, sekaligus melayani permintaan warga sekitar.

Untuk memastikan semua berjalan sesuai aturan, Dinas PMK Kabupaten Sleman bersama Tim Pendamping Profesional (TPP) turun langsung melakukan monitoring ke lapangan. Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Siska Wulandari, S.Kom, MM, Wahyu Hardiyanti, SE, Nana Sujarwit, serta jajaran TPP Sigit Praptono, ST, Agung Margandhi, SE, MM, Aryanto Wibowo, STP, Fitria Kartika Sari, ST, dan Puji Supriyanto .

Monitoring ini dilakukan sebagai bagian dari mandat regulasi, sekaligus mendukung program nasional Asta Cita Presiden yang menempatkan ketahanan pangan sebagai fondasi peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Dalam kesempatan tersebut, unsur TPP Agung Margandhi, SE, MM menekankan bahwa keberhasilan BUMDes tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal, tetapi juga oleh cara mengelola usaha.

“Usaha desa harus dikelola secara profesional, transparan, dan bertanggung jawab. Administrasi dan keuangan yang tertib akan membangun kepercayaan warga. Dari situlah keberlanjutan BUMDes bisa terjaga,” ujarnya.

BUMDes Moro Joyo mungkin tidak berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Namun dari kandang ayam yang hampir rampung, kolam ikan yang mulai terisi, hingga gabah petani yang kini bernilai lebih, satu hal terasa jelas: desa sedang bergerak.

Pelan, sederhana, tapi pasti menuju kemandirian pangan dan kesejahteraan warga Mororejo.(guns)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  RAKOR PERDANA TENAGA PENDAMPING PROFESIONAL KABUPATEN SLEMAN BERSAMA DENGAN KEPALA DINAS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN KALURAHAN KABUPATEN...