Sleman — Program ketahanan pangan (Ketapang 20%) di Kabupaten Sleman kembali memperlihatkan capaian yang menggembirakan. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Sleman tahun 2025, sejumlah kalurahan mampu merealisasikan anggaran dengan optimal, bahkan beberapa di antaranya melampaui pagu yang telah dialokasikan.
Program ini merupakan implementasi wajib penggunaan Dana Desa yang diarahkan pada penguatan sektor pangan melalui budidaya pertanian, peternakan, hingga pengembangan wisata edukasi. Berbagai inovasi yang dilakukan pemerintah kalurahan terbukti menjadi kunci percepatan aktivitas dan keberhasilan program di lapangan.
Salah satu contoh capaian datang dari Kalurahan Pakembinangun, Kapanewon Pakem, yang mencatatkan realisasi anggaran sebesar Rp 262.038.240, melebihi pagu senilai Rp 253.376.600. Program difokuskan pada budidaya timun baby, cabai, dan kelengkeng. Dalam Musyawarah Kalurahan Khusus (Muskalsus) yang digelar pada 20 Maret 2025, Direktur BUMDes Pakem Makmur Murakabi, Supriyanto, menyampaikan bahwa hasil pertanian yang dikelola telah menunjukkan progres signifikan.
Timun baby mencatat panen perdana mencapai 11 ton, sementara komoditas cabai kini memasuki masa panen raya. Supriyanto, yang merupakan mantan PPL dari Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, mengungkapkan bahwa penerapan metode budidaya yang tepat memberi dampak langsung terhadap produktivitas. Bahkan, area pertanian tersebut sedang dipersiapkan untuk menjadi lokasi studi tiru dan wisata edukasi, sebagai bagian dari pengembangan lahan pertanian terpadu.
Tidak hanya Pakembinangun, contoh keberhasilan lain hadir dari Kalurahan Triharjo, Kapanewon Sleman, yang mengembangkan program eduwisata peternakan bertajuk “Petualangan Dunia Domba”. Melalui BUMKal Triharjo Sejahtera, program ini memberikan pengalaman langsung bagi anak-anak dan pengunjung untuk belajar mengenal, memberi pakan, hingga memahami pola pemeliharaan domba dalam lingkungan kandang yang bersih dan aman. Inisiatif ini tidak hanya memperkuat aspek ketahanan pangan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi desa melalui kunjungan wisata edukatif.
Secara keseluruhan, tren positif tampak merata di berbagai kalurahan di Sleman. Selain mendorong produksi pangan, program Ketapang juga memperluas peran BUMDes dan unit usaha desa sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Budidaya intensif, pembibitan, hingga konsep edukasi pertanian menjadi strategi yang semakin diminati.
Meski demikian, masih terdapat beberapa hal administratif yang perlu menjadi perhatian, seperti penyusunan analisis usaha dan kelengkapan dokumen pendukung yang belum sepenuhnya rampung di sejumlah kalurahan. Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas PMK terus memberikan pendampingan melalui TPP, dan BUMKal agar seluruh tahapan dapat diselesaikan dengan baik.
Dengan kolaborasi kuat antara pemerintah kalurahan, BUMDes, dan masyarakat, program Ketapang 20% diharapkan terus menjadi fondasi kokoh bagi terwujudnya ketahanan pangan yang berkelanjutan dan berdaya saing di Kabupaten Sleman.(guns)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar