Senin, 15 Desember 2025

Kolam, Ladang, dan Harapan: Cerita Ketahanan Pangan BUMKal Wonokerto

Wonokerto, Sleman, 15 Desember 2025  — Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Dharma Utama Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, menunjukkan capaian signifikan dalam pengembangan unit usaha ketahanan pangan tahun 2025. BUMKal yang berdiri sejak tahun 2016 ini terus bertransformasi dari unit usaha pariwisata, pasar, dan pertashop, hingga kini menambah unit usaha ketahanan pangan sesuai amanat Permendesa Nomor 3 Tahun 2025.

BUMKal Dharma Utama Wonokerto yang dipimpin Direktur Sunaryadi menjadi salah satu contoh implementasi program ketahanan pangan yang berjalan nyata di lapangan. Pada akhir tahun 2025, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman bersama Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) melakukan monitoring langsung untuk memastikan manfaat program benar-benar dirasakan oleh masyarakat kalurahan.

Hasil monitoring menunjukkan pelaksanaan unit usaha ketahanan pangan berjalan optimal. Kegiatan yang dikembangkan meliputi sektor pertanian berupa padi dan jagung, sektor perikanan budidaya lele dan nila, serta kios yang menyediakan sarana produksi pertanian dan perikanan, termasuk pakan dan obat-obatan.

Kasi Pemberdayaan Perekonomian Masyarakat (PPM) Dinas PMK Kabupaten Sleman, Siska Wulandari, S.Kom., M.M., menyampaikan apresiasi atas kinerja pengurus BUMKal. Menurutnya, pelaksanaan ketahanan pangan di Wonokerto dilakukan secara serius, terencana, dan telah memasuki tahap produksi.
“Ini bukan sekadar program di atas kertas. Kami melihat langsung di lapangan, kegiatannya nyata dan hasilnya sudah terlihat,” ujarnya.

Untuk unit ketahanan pangan, BUMKal Dharma Utama Wonokerto mengelola anggaran sebesar Rp320 juta. Dari jumlah tersebut, Rp300 juta telah direalisasikan, sementara Rp20 juta masih tersimpan di rekening induk. Alokasi dana perikanan mencapai Rp84 juta, ditambah Rp90 juta untuk pengadaan stok pakan sebanyak 280 sak.

Pada sektor perikanan, budidaya lele dan nila telah berjalan dengan baik. Saat ini terdapat 10 kolam aktif untuk lele, dengan rencana pengembangan hingga 20 kolam. Setiap kolam diisi 2.000 hingga 5.000 ekor benih. Siklus produksi lele diperkirakan dua bulan hingga panen, dengan target panen awal pada tahun 2026. Sementara itu, budidaya nila menghasilkan sekitar 100 kilogram per kolam atau setara 3.000–4.000 ekor. Hasil panen direncanakan dipasarkan langsung ke pasar dan tengkulak.

Di sektor pertanian, jagung manis dan jagung pipil dikembangkan pada empat petak lahan, serta satu petak untuk tanaman padi. Panen jagung dijadwalkan pada akhir Desember 2025. Secara keseluruhan, analisis Break Even Point (BEP) unit ketahanan pangan diproyeksikan aman dalam jangka waktu tiga tahun.

TAPM Kabupaten Sleman, Agung Margandhi, S.E., M.M., menegaskan bahwa BUMKal harus dijalankan dengan prinsip transparansi, akuntabilitas, profesionalisme, tanggung jawab, dan keberlanjutan. Ia juga mengingatkan pentingnya tertib administrasi dan tata kelola keuangan agar eksistensi BUMKal dapat terus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Wonokerto.



Selain unit usaha, BUMKal Dharma Utama Wonokerto juga menyerap 22 tenaga kerja lokal, termasuk pengelolaan unit pariwisata Jaka Garong Camping Ground, yang turut berkontribusi pada penguatan ekonomi kalurahan.

Dengan capaian tersebut, BUMKal Dharma Utama Wonokerto dinilai berhasil menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan sekadar program mandatori, melainkan investasi jangka panjang bagi kemandirian dan kesejahteraan masyarakat kalurahan.(guns)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  RAKOR PERDANA TENAGA PENDAMPING PROFESIONAL KABUPATEN SLEMAN BERSAMA DENGAN KEPALA DINAS PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN KALURAHAN KABUPATEN...