Widodomartani, Sleman, 7 November 2025 – Suasana semarak menyelimuti hamparan lahan seluas satu hektar milik BUMDes Widodo Makaryo pada acara Panen Raya Perdana Melon program ketahanan pangan yang digelar pada hari ini. Dengan total nilai penyertaan modal kalurahan Rp250 juta, kegiatan ini menjadi tonggak awal lahirnya kawasan pertanian terpadu “Wima Farm” yang memadukan sektor pertanian, perikanan, peternakan, dan wisata edukatif.
BUMDes Widodo Makaryo, yang berdiri sejak tahun 2020 di bawah kepemimpinan Direktur Ari, terus menunjukkan inovasi dan kreativitas dalam menggerakkan ekonomi desa. Melalui konsep pertanian terpadu, kawasan ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat produksi pangan, tetapi juga destinasi wisata edukasi dengan pemandangan indah Gunung Merapi serta sumber air yang melimpah — menjadikannya lokasi yang sangat potensial untuk pengembangan wisata agro dan edukatif.
Dalam program ketahanan pangan ini, BUMDes menanam berbagai varietas melon unggulan, di antaranya:
-
Honeydew (Melon Madu) dengan kulit halus dan cita rasa manis segar,
-
Sky Rocket dengan kulit berjaring putih kekuningan,
-
Cantaloupe (Rock Melon) berdaging oranye manis,
-
Golden Prize berwarna kuning cerah menggoda, serta
-
Galia, yang ditanam dengan sistem greenhouse.
Setiap unit greenhouse berukuran 8 x 24 meter dengan jumlah 600 tanaman melon. Masa tanam hingga panen berlangsung sekitar 70 hari, dan pengelola menghadirkan konsep “Pilih Sendiri, Petik Sendiri” dengan harga Rp30.000 per kilogram. Berdasarkan analisa usaha yang telah dilakukan, diperkirakan usaha ini akan mencapai Break Even Point (BEP) setelah enam kali panen.
Acara panen raya turut dihadiri oleh sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat, antara lain Ibu Siska Wulandari, S.Kom., M.M. dari Dinas PMK beserta jajaran, Bapak Aditya selaku Jawatan Projo dari unsur Kapanewon, serta perwakilan Pemerintah Kalurahan Widodomartani yang dihadiri oleh Carik dan Danarto. Hadir pula dari unsur pendamping desa Deny Pratam, ST , TAPM Agung Margandhi, S.E., M.M. dan Budi Prasetyo, S.E.
Kehadiran para tamu undangan ini menjadi bentuk nyata dukungan terhadap komitmen BUMDes Widodo Makaryo dalam mengembangkan sektor ketahanan pangan yang berkelanjutan dan melibatkan masyarakat secara aktif.
Dalam sambutannya, Direktur Ari menegaskan bahwa BUMDes tidak berjalan sendiri. Program ini turut melibatkan Gapoktan dan Kelompok Wanita Tani (KWT) melalui sistem bagi hasil 70:30 untuk BUMDes. Selain melon, mereka juga menanam berbagai komoditas polowijo seperti cabai, sawi, timun, dan kacang panjang di area terpadu ini.
Tak hanya fokus pada pertanian, Wima Farm juga mengembangkan unit perikanan dengan pembibitan dan konsumsi ikan nila, serta peternakan kambing dengan sistem kandang komunal. Di masa mendatang, kawasan ini direncanakan diperluas menjadi area wisata air dan pemancingan, memanfaatkan letaknya yang strategis di tepi sungai dengan panorama alam yang memukau.
Hadirnya BUMDes Widodo Makaryo telah membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat Widodomartani. Ke depan, Direktur Ari optimis bahwa kawasan “Wima Farm” akan semakin ramai dan menjadi pusat aktivitas masyarakat desa. Ia juga berencana mengadakan berbagai event dan festival desa untuk melibatkan UMKM lokal agar dapat berpartisipasi dalam menghidupkan kawasan ini.
“Kami ingin Wima Farm menjadi contoh nyata pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Ketika sektor pertanian, perikanan, dan wisata bersinergi, maka kesejahteraan masyarakat desa akan meningkat secara berkelanjutan,” ujar Direktur Ari dengan penuh optimisme.
BUMDes Widodo Makaryo merupakan Badan Usaha Milik Desa Widodomartani yang berdiri sejak tahun 2020 dengan komitmen menjadi motor penggerak ekonomi desa melalui inovasi usaha produktif dan pemberdayaan masyarakat. Melalui Wima Farm, BUMDes ini tidak hanya menanam hasil bumi, tetapi juga menanam harapan bagi kemajuan dan kemandirian desa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar