Margoluwih, Seyegan, Sleman – Setelah empat tahun vakum dan mengalami sejumlah kendala internal, Bumdesa Makarti Margoluwih, Kapanewon Seyegan, kembali menggeliat. Seluruh unit usaha lama perdagangan umum, jasa fotokopi, hingga pengelolaan pasar telah berhenti beroperasi setelah direktur dan jajaran pengurus sebelumnya mengundurkan diri tanpa penjelasan yang jelas. Dalam masa kevakuman tersebut, pengelolaan pasar sementara diampu oleh ulu-ulu Kalurahan Margoluwih.
Memasuki 2025, pemerintah kalurahan melakukan langkah besar dengan merestrukturisasi total Bumdesa. Hasilnya, terpilih jajaran kepengurusan baru yang seluruh posisi strategisnya direktur, sekretaris, hingga bendahara diisi oleh para perempuan muda Margoluwih. Sebuah formasi segar yang kemudian dijuluki sebagai “Srikandi-Srikandi Margoluwih”.
Namun demikian, hingga awal November, pemerintah kalurahan belum menyerahkan Laporan Pertanggung jawaban (LPJ) pengurus lama beserta aset-aset Bumdesa yang masih tercatat. Kondisi ini menyulitkan pengurus baru untuk segera menjalankan program, terlebih pada 2025 Bumdesa mendapat amanah mengelola program ketahanan pangan sebesar 20 persen dari Pagu Dana Desa.
Untuk mempercepat penyelesaian persoalan, Selasa (18/11/2025) digelar koordinasi khusus di Ruang Rapat Kantor Pemerintah Kalurahan Margoluwih dengan menghadirkan Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat, Agung Margandhi, SE, MM. Hadir dalam forum tersebut Ketua BPKal Drs. Kuswadi beserta anggota, jajaran pamong kalurahan termasuk Carik Avi Arvita Dewi , Danarto , pendamping desa Estri Wahyuni, serta pengurus dan pengawas Bumdesa.
Dalam paparannya, Agung Margandhi menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah kalurahan, BPKal, dan pengurus Bumdesa untuk membuka kembali unit-unit usaha yang sempat mangkrak. Ia juga memberikan motivasi agar pengalaman buruk pengelolaan sebelumnya tidak menjadi hambatan bagi langkah maju ke depan.
Pihak BPKal sempat menyampaikan keragu-raguan karena pengalaman penyertaan modal yang cukup besar di periode sebelumnya justru berakhir tanpa hasil. Trauma ini masih membekas, namun penjelasan dari narasumber berhasil membangkitkan optimisme forum. Seluruh peserta akhirnya sepakat untuk memberikan dukungan penuh kepada pengurus baru.
Direktur Bumdesa yang baru, Cut Mutia Daya Founna, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyiapkan rancangan bisnis (business plan), program kerja, dan strategi pengembangan unit usaha baru. Ia menegaskan bahwa Bumdesa siap bergerak cepat “tancap gas” jika pemerintah kalurahan segera menyerahkan aset dan dokumen pertanggungjawaban dari pengurus lama.
“Kami siap mengejar ketertinggalan dari Bumdesa-Bumdesa lain. Tim sudah menyiapkan perencanaan dan sangat berharap proses serah terima aset segera diselesaikan,” ujar Cut Mutia di hadapan forum.
Pendamping desa, Estri Wahyuni, juga menegaskan bahwa proses pengajuan badan hukum Bumdesa menjadi prioritas. Ia menilai kepengurusan baru memiliki energi positif dan tekad kuat untuk membawa Makarti Margoluwih kembali menjadi motor penggerak ekonomi desa.
Pertemuan tersebut ditutup dengan kesepakatan bersama untuk mempercepat penyelesaian permasalahan dan memberikan dukungan penuh terhadap Pengurus baru Bumdesa Makarti Margoluwih. (gand)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar