Pagi itu, Senin 15 Desember 2025, udara Sleman masih terasa sejuk ketika rombongan Tim Monitoring Ketahanan Pangan bersiap berangkat dari Kantor Dinas PMK Kabupaten Sleman. Tanpa hiruk pikuk, tanpa seremoni berlebihan, langkah dimulai dengan niat yang jelas: memastikan amanat negara benar-benar hidup di tanah desa.
Tim Dinas PMK yang terdiri dari Siska Wulandari, Wahyu Hardiyanti, dan Nana Sujartwi, bersama Tim TPP Kabupaten Sleman yang diwakili Agung Margandhi, bergerak perlahan namun pasti. Empat lokasi telah menanti sesuai Surat Perintah Tugas (SPT). Monitoring ini bukan sekadar rutinitas administrasi, melainkan bagian dari tanggung jawab moral untuk memastikan pelaksanaan Program Ketahanan Pangan berjalan sesuai mandat Kepmendes Nomor 3 Tahun 2025 bahwa minimal 20 persen Dana Desa harus dikelola melalui BUMDes untuk ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Tujuan pertama pagi itu adalah Kalurahan Bangunkerto, sebuah desa di Kapanewon Turi yang sarat sejarah dan budaya. Bangunkerto bukan desa biasa. Ia lahir dari penggabungan tiga kelurahan lama—Ganggong, Selobonggo, dan Wonosari—berdasarkan maklumat Pemerintah DIY pada tahun 1946 dan 1948. Hingga kini, jejak masa lalu masih terawat, dari Situs Ganggong peninggalan masa klasik hingga denyut seni tradisi seperti Jatilan Bangun Krida Turonggo yang berdiri sejak 1960 dan Grup Kubrosiswo sejak 1976. Bangunkerto adalah Desa Budaya, tempat sejarah dan masa depan berjalan berdampingan.
Ketika rombongan tiba di lokasi, suasana masih lengang. Pagi yang tenang, perangkat kalurahan belum sepenuhnya hadir, pelayanan belum bergulir. Di ruang carik, tujuan kedatangan disampaikan secara singkat dan lugas. Tak lama, rombongan langsung menuju lokasi kegiatan ketahanan pangan di tanah kas desa.
Di hamparan lahan itulah denyut pembangunan terasa nyata. Tim diterima oleh Danarto bersama Manajer Unit Ketahanan Pangan. Meski jajaran pengurus BUMDes belum hadir karena agenda lain, proses monitoring tetap berjalan terbuka dan informatif. Danarto memaparkan bahwa program ketahanan pangan dilaksanakan di lahan kas desa seluas hampir 1 hektare, terbagi dalam 11 petak, dengan pola tanam tumpang sari.
Cabai, bawang merah, dan tomat tumbuh berdampingan sebuah strategi pertanian yang bukan hanya efisien, tetapi juga adaptif terhadap risiko. Bawang merah dijadwalkan panen perdana satu minggu ke depan, sementara cabai diproyeksikan siap panen pada awal tahun 2026. Total anggaran ketahanan pangan yang dikelola mencapai Rp265.000.000.
Seluruh kegiatan pertanian ini dikelola langsung oleh Manajer Unit Ketahanan Pangan dengan dukungan enam orang personel lapangan. Tidak ada kesan seremonial, yang terlihat justru kerja senyap namun terukur. Di sinilah BUMDes Bangun Mitra Sejahtera yang berdiri sejak 2019 dan dipimpin oleh Azis Setyawan menjalankan perannya sebagai penggerak ekonomi desa, menjadikan tanah kas desa sebagai sumber penghidupan dan harapan bersama.
Bangunkerto pagi itu mengajarkan satu hal penting: ketahanan pangan bukan hanya soal angka anggaran atau luasan lahan, tetapi tentang kesungguhan mengelola amanah. Di antara barisan tanaman bawang yang siap panen dan cabai yang masih hijau, tersimpan keyakinan bahwa desa mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Langkah pagi dari kantor PMK menuju Bangunkerto bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan nilai bahwa dari desa, dengan budaya yang kuat dan kerja yang jujur, kemandirian pangan bukan mimpi, melainkan proses yang sedang tumbuh, pelan tapi pasti. (guns)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar