Pantai Ngiroboyo - Sejak rombongan TPP Sleman berangkat dari Sleman menuju Pacitan, semua sudah paham satu hal: ini bukan perjalanan biasa. Ini dolan bareng yang disamarkan menjadi Rakor. Mobil belum jauh melaju, tapi suasana di dalam kendaraan sudah hiruk-pikuk bak Pasar Beringharjo menjelang Lebaran. Tawa bersahutan, obrolan tumpang tindih, gosip murahan naik kelas jadi gosip strategis, dan cerita receh mendadak terasa lucu karena dibumbui rasa capek kolektif.
Perjalanan awal masih aman. Lampu jalan masih setia menemani, sinyal masih ramah, dan logika masih berfungsi. Tapi segalanya berubah saat rombongan mulai memasuki wilayah Pacitan. Jalan mulai menyempit, rusak, naik-turun, berkelok tajam seperti niat hidup yang tidak konsisten. Lampu jalan? Jangan harap. Yang ada hanya sorot lampu kendaraan yang memantul di pepohonan hutan, menciptakan bayangan-bayangan aneh yang memicu imajinasi liar.
Di titik inilah cerita horor dan mistis mulai lahir. Bukan karena ada penampakan, tapi karena suasana yang terlalu mendukung. Hutan gelap, jalan terjal, jurang di sisi kanan-kiri, dan keheningan yang tiba-tiba membuat obrolan mendadak melambat. Ada yang refleks mengecilkan suara. Ada yang nyeletuk, “Iki nek ana opo-opo, sinyal wae ora ana yo.” Yang lain menimpali dengan cerita-cerita perjalanan desa yang “katanya” pernah dilewati makhluk tak kasat mata.
Lucunya, rasa mencekam itu tidak bertahan lama. Begitu satu orang salah sebut nama tempat, salah orang, atau salah cerita, tawa langsung pecah. Ketegangan runtuh seketika. Horor kalah telak oleh candaan. Hutan tetap gelap, jalan tetap rusak, tapi di dalam mobil justru semakin riuh. Rasa takut berubah jadi bahan olok-olok. Dari yang awalnya waspada, mendadak jadi sok berani.
Sesampainya di lokasi Rakor, lelah perjalanan belum sepenuhnya hilang. Namun Rakor tetap berjalan serius, penuh catatan penting, refleksi setahun pendampingan, dan beban pekerjaan yang tidak ringan. Begitu Rakor usai, babak kedua dimulai: malam kebersamaan tanpa skenario.
Para pendamping menyebar sesuai watak. Ada yang ke pantai, menikmati angin laut sambil pura-pura merenung masa depan. Ada yang di warung kopi, membedah hidup dari sudut pandang paling sok bijak. Ada yang di emperan hotel, merasa paling merakyat dan paling bebas. Ada yang menghilang di sudut remang-remang entah merenung, entah menghindari traktiran. Ada juga yang langsung masuk kamar, tumbang oleh kelelahan.
Dan di sanalah lahir legenda dengkuran. Dari dalam kamar terdengar suara dengkur yang ritmenya stabil, nadanya mantap, volumenya cukup untuk menembus dinding. Yang masih nongkrong di luar awalnya kaget, lalu saling tatap, lalu tertawa sampai perut sakit. Dengkuran itu jadi soundtrack malam Ngiroboyo—lebih konsisten daripada ombak.
Obrolan pun mengalir bebas. Ada yang kembali ke dunia mistis—kali ini bukan horor, tapi nostalgia desa. Ada yang membahas perselingkuhan dengan gaya setengah serius setengah gosip. Ada yang mendadak melankolis, bercerita tentang masa kecil, keluarga, dan alasan bertahan di pekerjaan yang melelahkan ini. Ada juga yang membuka kisah masa lalu, dari yang bikin senyum sampai yang bikin diam sebentar.
Di satu kamar, drama kecil tak terhindarkan. Yang satu tidak tahan kipas angin, yang satu justru tidak bisa tidur tanpa angin. Akhirnya dua-duanya kalah oleh keadaan: memilih melek, gabung lagi, bakar sosis, ngobrol sampai pagi. Sosis gosong tidak jadi masalah, yang penting hati hangat.
Semua ini terjadi di ujung 2025 tahun yang berat bagi TPP. Setahun penuh mendampingi kalurahan dengan segala dinamika dan intrik politik lokal. Kasus penyelewengan APBDes yang bermunculan membuat lelah bertambah. Deadline pekerjaan menekan, ancaman relokasi menghantui, dan tuntutan profesionalisme sering kali mengalahkan sisi kemanusiaan.
Di Ngiroboyo, topeng-topeng itu dilepas. Yang terlihat adalah wajah-wajah yang sok kuat tapi sebenarnya rapuh. Tertawa bukan karena tidak punya masalah, tapi karena kalau tidak tertawa, bisa runtuh. Rakor ini, dengan segala kegaduhannya, menjadi ruang aman untuk menjadi manusia biasa.
Dan di antara jalan rusak, hutan gelap, cerita horor yang kalah lucu, dengkuran merdu, serta sosis setengah gosong, semua diam-diam berdoa: semoga di 2026, kebersamaan ini tetap satu gerbong. Apa pun jalannya asal jangan diturunkan di tengah hutan, tanpa lampu, tanpa sinyal, dan tanpa teman tertawa.(guns)
Kesimpulan tulisan tersebut:
BalasHapusTulisan ini menyimpulkan bahwa Rakor TPP Sleman ke Ngiroboyo bukan sekadar rapat kerja, melainkan ruang kebersamaan dan pelepasan lelah setelah setahun penuh tekanan. Di balik jalan rusak, hutan gelap, cerita horor, candaan, dengkuran, dan sosis gosong, tersimpan kebutuhan manusiawi para pendamping untuk tertawa, berbagi cerita, dan saling menguatkan.
Rakor ini menjadi ruang aman tempat para TPP menanggalkan topeng profesional, mengakui lelah dan rapuh, serta memulihkan energi lewat kebersamaan. Humor dan keakraban menjadi cara bertahan di tengah beban kerja berat, konflik desa, dan ketidakpastian masa depan.
Pada akhirnya, tulisan ini menegaskan bahwa yang paling penting bukan sekadar hasil rakor, tetapi rasa kebersamaan dan harapan agar solidaritas tetap terjaga—tetap satu gerbong—menghadapi tahun berikutnya, apa pun rintangannya.