Sleman - Purwomartani adalah kalurahan yang tak pernah benar-benar sepi. Terletak di Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, wilayah ini dikenal sebagai salah satu kalurahan dengan jumlah penduduk terbanyak di kecamatan tersebut. Datarannya rendah, permukimannya padat, dan aktivitas warganya bergerak cepat seiring denyut pembangunan. Secara historis, Purwomartani lahir dari penggabungan empat kelurahan lama Babadan, Kujonsari, Temanggal, dan Kadirojo yang kini menyatu menjadi satu kawasan strategis.
Posisi Purwomartani kian penting seiring hadirnya Jalur Tol Yogyakarta–Solo yang melintasi wilayah ini. Infrastruktur besar itu diproyeksikan mulai fungsional sebagian pada akhir 2025 hingga 2026, menjadikan Purwomartani berada di simpul perubahan: antara desa, kota, dan masa depan. Di tengah laju pembangunan fisik tersebut, kalurahan tetap aktif merawat ruang partisipasi warganya melalui berbagai forum perencanaan, salah satunya Musyawarah Rencana Pembangunan Kalurahan (Musrenbangkal).
Dalam konteks itulah, tim monitoring dari Dinas PMK Sleman dan TAPM melakukan kunjungan ke Purwomartani. Rombongan diterima di sebuah rumah makan Kismo tempat yang hangat dan bersahaja yang kebetulan dimiliki oleh Mujiyana, Direktur BUMDes Karya Sejahtera. Hadir mendampingi, para pengurus, pengawas BUMDes, serta pamong kalurahan, menandai semangat keterbukaan dan kebersamaan.
Dalam paparannya, Mujiyana menyampaikan dengan jujur bahwa unit ketahanan pangan BUMDes belum dapat berbicara banyak di tahun ini. Proses revitalisasi kepengurusan baru dilakukan di akhir 2025, sehingga waktu persiapan menjadi relatif singkat. Selain itu, penyertaan modal sebesar Rp571.322.600 baru ditransfer pada pertengahan Desember, membuat langkah awal harus dijalankan dengan penuh perhitungan.
Meski demikian, arah sudah ditetapkan. BUMDes Karya Sejahtera telah menyiapkan dan merenovasi sebuah bangunan yang akan difungsikan sebagai gerai hasil pertanian dan produk UMKM. Fokus usaha diarahkan pada perdagangan ketahanan pangan: membeli hasil pertanian warga, menampung produk UMKM lokal, serta menjalin kerja sama dengan Gapoktan dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Purwomartani. Nilai penyertaan modal yang cukup besar itu diharapkan menjadi pengungkit ekonomi lokal, bukan sekadar angka dalam laporan.
Siska Wulandari dari Dinas PMK Sleman mengingatkan pentingnya prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan BUMDes. Dana yang besar, tegasnya, harus dikelola secara tertib, transparan, dan akuntabel agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat Purwomartani, bukan hanya berhenti pada pembangunan fisik semata.
Senada dengan itu, Agung Margandhi, selaku bagian dari tim monitoring unsur TAPM Sleman, menegaskan bahwa penggunaan Dana Desa untuk ketahanan pangan telah memiliki landasan kuat melalui Kepmendes Nomor 3 Tahun 2025. Regulasi tersebut menegaskan bahwa Dana Desa diarahkan untuk mendukung petani, peternak, pembudidaya ikan, serta pelaku usaha pangan lainnya, dengan tujuan besar mencapai swasembada pangan desa, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat ekonomi lokal.
Di tengah padatnya permukiman dan cepatnya laju infrastruktur, Purwomartani sedang menata langkah. Mungkin belum melaju kencang, tetapi bergerak dengan kesadaran penuh. Dari meja musyawarah hingga rak gerai pangan desa, dari tol yang membelah wilayah hingga UMKM yang tumbuh di kampung-kampung, Purwomartani sedang belajar menyeimbangkan pembangunan dan ketahanan. Karena pada akhirnya, desa yang kuat bukan hanya yang dilalui jalan besar, tetapi yang mampu memastikan warganya tetap berdaulat atas pangannya sendiri.(guns)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar