MARGOAGUNG, SEYEGAN - Pagi di Pasar Desa Sri Katon Agung, Kalurahan Margoagung, berjalan pelan seperti napas desa yang belum sepenuhnya terjaga. Kamis, 12 Februari 2026 itu bukan hari pasaran. Lorong-lorong pasar tampak lengang. Beberapa pedagang membuka lapak seadanya, menyusun dagangan sambil berbincang ringan, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat ini.
Namun pagi itu berbeda.
Deretan mobil dinas berhenti di halaman pasar. Sejumlah pejabat turun, menyapa pedagang, menyalami warga, dan perlahan menyusuri los-los yang mulai dimakan usia. Rombongan Monitoring dan Evaluasi dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman datang bukan sekadar membawa agenda kerja, tetapi juga harapan untuk membaca kembali denyut ekonomi desa.
Yang membuat kunjungan ini terasa istimewa, Kepala Dinas PMK Kabupaten Sleman, R. Budi Pramono, S.IP., M.Si, hadir langsung di tengah pasar—bukan di ruang rapat berpendingin udara, melainkan di antara aroma sayur segar, kios kosong, dan lantai pasar yang menyimpan banyak cerita.
Di pintu masuk pasar, Lurah Margoagung Djarwo Suharno bersama pamong kalurahan dan pengurus BUMKal Karya Manunggal menyambut rombongan dengan hangat. Sapaan sederhana itu terasa seperti pertemuan keluarga besar yang sama-sama ingin melihat desa tumbuh lebih kuat.
“Silakan memberikan penilaian dan advis bagi kami,” ucap lurah dengan nada terbuka, seakan menyerahkan ruang belajar bersama.
Bangunan Pasar Sri Katon Agung sebenarnya masih berdiri gagah. Pilar-pilarnya kokoh, atapnya masih menaungi dengan baik. Namun waktu meninggalkan jejaknya: sudut-sudut yang mulai kusam, kios yang belum terisi, dan suasana yang belum kembali ramai.
Direktur BUMKal Karya Manunggal, Sudarman, berdiri di tengah lorong pasar tanpa podium, tanpa mikrofon. Hanya suara yang jujur dan semangat yang terasa menyala.
Ia bercerita tentang tanggung jawab besar mengelola pasar desa yang telah diserahkan kepada BUMKal. Tentang realitas anggaran yang belum sebanding dengan kebutuhan perawatan. Tentang pemasukan yang masih terbatas, sementara aset yang harus dijaga begitu besar.
“Bangunannya kuat, tapi kami masih berjuang menghidupkannya,” ungkapnya.
Tak jauh dari sana berdiri pasar daerah yang lebih ramai. Persaingan itu nyata. Pasar desa seperti berada di persimpangan: bertahan atau perlahan ditinggalkan.
Kepala Dinas PMK tidak langsung berbicara soal kekurangan. Ia justru mengajak semua melihat kemungkinan.
Margoagung, katanya, memiliki identitas kuat. Desa ini dikenal luas lewat mie ayam goreng legendaris yang namanya melampaui batas wilayah. Mengapa pasar desa tidak mengambil peran sebagai ruang kuliner? Atau mungkin pasar khusus hewan peliharaan, pasar klitikan, atau pusat aktivitas tematik lain yang tidak berbenturan dengan pasar daerah?
Sambil berjalan menyusuri kios-kios, ia menyampaikan gagasan sederhana namun dalam maknanya.
“Pasar ini sebenarnya hanya perlu jiwa. Branding. Jika bersih, tertata, dan cantik, orang akan datang bukan hanya untuk membeli, tetapi untuk mengalami.”
Kalimat itu menggantung di udara pagi, seperti harapan yang perlahan menemukan bentuknya.
Margoagung bukan desa yang kekurangan potensi. Di balik pasar yang sepi, kehidupan ekonomi sesungguhnya tumbuh di banyak sudut.
Desa ini dikenal sebagai sentra tahu terbesar di Sleman. Aroma kedelai rebus menjadi bagian dari keseharian warga. Di sisi lain, tangan-tangan terampil pengrajin bambu menghasilkan kursi dan gazebo yang menembus pasar ekspor.
Sawah-sawah masih hijau, kolam ikan terawat, peternakan kambing berkembang, sementara seni jatilan dan karawitan terus hidup sebagai napas budaya yang diwariskan lintas generasi. Desa ini seperti mosaik: ekonomi, budaya, dan tradisi berjalan berdampingan.
Pada tahun 2025, BUMKal Karya Manunggal menerima dukungan program ketahanan pangan senilai Rp300 juta untuk mengembangkan usaha sebagai pemasok tahu bagi dapur SPPG. Sebuah langkah kecil yang membuka rantai ekonomi baru dari desa untuk masyarakat yang lebih luas.
Namun pembangunan tidak hanya berbicara tentang peluang, melainkan juga tentang tanggung jawab.
Tim monitoring yang dipimpin Siska Wulandari bersama TAPM Sigit Praptono menaruh perhatian pada tata kelola administrasi. Laporan keuangan, dokumen kerja sama, hingga program kerja menjadi bagian penting yang menentukan keberlanjutan usaha desa.
Ada catatan pengeluaran yang belum tercantum dalam program kerja. Bukan untuk menyalahkan, tetapi menjadi pengingat bahwa BUMKal adalah lembaga publik setiap keputusan harus lahir dari musyawarah, bukan langkah individu.
Di situlah pembangunan desa menemukan makna sesungguhnya: bukan hanya membangun usaha, tetapi membangun kepercayaan.
Ketika rombongan meninggalkan pasar, suasana kembali tenang. Pedagang kembali melayani pembeli, suara percakapan kembali pelan. Namun sesuatu terasa berubah.
Pasar itu mungkin masih sepi hari ini.
Tetapi pagi itu telah menanamkan gagasan baru bahwa sebuah pasar tidak mati hanya karena kehilangan keramaian. Ia hanya menunggu ditemukan kembali jiwanya.
Dan di Margoagung, di antara los-los yang sunyi dan langkah-langkah kecil perubahan, harapan itu mulai disusun ulang perlahan, bersama-sama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar