Jumat, 23 Januari 2026

Belajar Jatuh untuk Bangkit: Babak Baru BUMDes Tirtomulyo

 

Tegaltirto, Berbah, 22-01-2026 - Mengelola sebuah bisnis sejatinya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Bisnis membutuhkan keterampilan, ketekunan, dan totalitas. Lebih dari itu, bisnis menuntut sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni sebagai kunci paling vital dalam menentukan keberhasilan. Tanpa SDM yang tepat, visi besar sering kali kandas di tengah jalan.

Hal inilah yang menjadi potret banyak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di berbagai wilayah. Tak sedikit BUMDes yang harus berganti-ganti pengurus akibat kegagalan demi kegagalan dalam mengelola usaha. Beragam faktor menjadi penyebabnya, mulai dari dominasi politik lokal, lemahnya sinergi antar pemangku kepentingan, minimnya kepercayaan pemerintah kalurahan kepada pengurus BUMDes, keterbatasan penyertaan modal, hingga persoalan tata kelola administrasi yang tidak tertata.

BUMDes Tirtomulyo, Kalurahan Tegaltirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, menjadi salah satu contoh nyata dari dinamika tersebut. Berdiri sejak tahun 2021, BUMDes Tirtomulyo kala itu menjalankan usaha gantangan burung yang dalam analisis bisnisnya diproyeksikan mampu mendulang keuntungan besar. Proyeksi tersebut bukan tanpa dasar. Wilayah Tegaltirto memiliki potensi kuat, dengan kombinasi alam yang asri, aktivitas peternakan masyarakat, hamparan sawah, air yang jernih, serta peluang pengembangan desa wisata berbasis ekowisata, peternakan, dan kerajinan lokal.

Namun realitas di lapangan tidak selalu seindah rencana. Perjalanan pengelolaan usaha BUMDes Tirtomulyo tidak berjalan sesuai harapan. Berbagai persoalan internal menguras energi dan menyisakan pekerjaan rumah yang besar. Hingga akhir tahun 2025, Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) belum dapat tersajikan. Kondisi ini mendorong pemerintah kalurahan untuk mengambil langkah tegas melalui revitalisasi kepengurusan BUMDes.

Langkah tersebut menjadi semakin mendesak karena pada tahun 2025 terdapat program ketahanan pangan dengan penyertaan modal sebesar 20 persen dari pagu Dana Desa yang harus dikelola oleh BUMDes. Dengan kondisi internal yang belum solid, pelaksanaan program ketahanan pangan berisiko tidak dapat tereksekusi secara optimal jika tidak segera dibenahi.

Melalui forum Musyawarah Kalurahan, pemerintah Kalurahan Tegaltirto kemudian mempercayakan tongkat estafet kepemimpinan BUMDes Tirtomulyo kepada saudara Rubertus Bramono, menggantikan direktur sebelumnya. Bramono merupakan sosok pebisnis milenial yang telah memiliki rekam jejak dalam mengelola usaha integrated farming dan terbukti berhasil. Kepercayaan ini diperkuat dengan penyertaan modal sebesar Rp 282.552.600,- sebagai modal awal pengembangan usaha.

Dalam paparannya di hadapan tim monitoring, Bramono tampil penuh percaya diri dan optimisme. Ia menyampaikan bahwa usaha yang akan dijalankan ditargetkan mencapai Break Even Point (BEP) dalam kurun waktu dua tahun. Optimisme tersebut bukan sekadar klaim, melainkan didasarkan pada pengalaman empiris dari usaha-usaha yang telah ia kelola sebelumnya.

Tim Monitoring dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman yang dipimpin oleh Siska Wulandari, didampingi Agung Margandhi dari unsur Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM), kemudian melakukan peninjauan langsung ke lokasi calon usaha. Meski belum terlihat aktivitas produksi, lokasi berupa bangunan gudang besar yang lama tidak dimanfaatkan dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan.

Lokasi tersebut direncanakan menjadi pusat kegiatan integrated farming dengan konsep bertingkat: susunan paling bawah berupa perikanan dengan kolam buatan permanen, di atasnya peternakan ayam petelur omega, dan lapisan berikutnya pertanian hidroponik untuk sayuran serta buah-buahan. Sebuah konsep yang terintegrasi, berorientasi keberlanjutan, dan selaras dengan potensi lokal Tegaltirto.

Dalam kegiatan monitoring tersebut, tim diterima oleh jajaran pamong kalurahan, pengurus BUMDes, serta pendamping desa. Usai peninjauan lapangan, tim melanjutkan dengan pemeriksaan administrasi. Memang belum banyak dokumen yang dapat disajikan, mengingat periode pasca-revitalisasi tidak disertai serah terima dokumen dari pengurus lama. Kondisi ini menjadi catatan penting dalam monitoring kali ini.

Sejumlah rekomendasi pun diberikan oleh tim monitoring sebagai bahan tindak lanjut. Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi pijakan awal untuk menata kembali tata kelola BUMDes agar berjalan sesuai regulasi, lebih profesional, dan akuntabel. Pengalaman masa lalu dijadikan pelajaran berharga bukan untuk disesali, melainkan sebagai cambuk motivasi agar pada periode ini BUMDes Tirtomulyo tidak lagi jatuh pada kegagalan, melainkan melangkah menuju keberhasilan yang gemilang.

Dengan kepengurusan baru, konsep usaha yang terukur, serta dukungan pemerintah kalurahan dan para pemangku kepentingan, BUMDes Tirtomulyo diharapkan mampu bangkit dan menjadi motor penggerak ekonomi desa. Pada akhirnya, keberhasilan BUMDes bukan sekadar soal angka keuntungan, tetapi tentang manfaat nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat Kalurahan Tegaltirto secara berkelanjutan.(guns)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BUMKal SEMAR Sampaikan LPJ Tahun Buku 2025, Komitmen Transparansi dan Penguatan Ekonomi Kalurahan Margorejo

  SLEMAN — Pemerintah Kalurahan Margorejo bersama Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) SEMAR menggelar Musyawarah Kalurahan Pertanggungjawa...