Ada hitam, ada putih. Ada siang, ada malam. Ada kopi pahit, ada teh manis. Ada cowok, ada cewek. Maka logika sederhana rakyat jelata pun mulai bekerja: kalau ada punishment, masa tidak boleh berharap ada reward?
Begitulah kira-kira celetukan yang melayang pelan, sayup-sayup, semilir mendesir entah dari sudut mana dalam rapat koordinasi TPP sore itu. Suasana memang sedang syahdu. Udara dingin, langit mungkin sedang bersekongkol membuat suasana menjadi lebih reflektif. Sampai-sampai sumber suara itu tak terdeteksi. Seperti angin: terdengar, terasa, tapi tak terlihat siapa pemiliknya.
Sore itu narasumber memaparkan tentang kondisi TPP yang pada bulan ini cukup banyak mengalami pemotongan honorarium. Tentu saja, ini bukan tanpa alasan. Regulasi dalam Kepmendes Nomor 294 memang telah memberikan rambu-rambu yang jelas. Ketertiban administrasi menjadi bagian penting yang harus dipahami dan dipedomani bersama oleh seluruh TPP. Sebab administrasi bukan sekadar tumpukan kertas, tetapi jejak akuntabilitas sebuah pengabdian.
Namun di balik lembar administrasi itu, ada kisah lain yang mungkin tak selalu tertulis dalam laporan bulanan. Ada jejak langkah yang tak tercatat di tabel evaluasi. Ada perjalanan panjang yang tak seluruhnya masuk dalam indikator.
Karena sesungguhnya TPP di lapangan tidak hanya mendampingi administrasi dan memfasilitasi dokumen. Mereka memastikan apa yang tertuang dalam APBKal benar-benar bergerak, berjalan, dan sampai pada tujuan. Mereka mengawal agar program tepat waktu, memastikan kegiatan dari luar APBKal juga dapat dieksekusi dalam tahun anggaran yang sama, bahkan tak jarang harus berjibaku dengan agenda yang datang bersamaan.
Jam kerja? Ah… kadang itu hanya angka di dinding kantor.
Pendampingan sering berlangsung hingga malam. Hari libur kadang berubah menjadi hari kerja. Telepon datang saat senja, pesan masuk ketika malam mulai larut. Namun tetap dijawab, tetap didampingi, tetap difasilitasi. Sebab yang dijaga bukan sekadar program, melainkan harapan masyarakat agar semuanya berjalan baik.
Mungkin itulah yang dimaksud suara-suara riuh kecil di ruang rapat sore itu. Bukan menolak aturan, bukan pula menghindari evaluasi. Tetapi berharap ada keseimbangan. Ada ruang apresiasi bagi mereka yang bekerja dengan dedikasi tinggi. Ada secercah penghargaan bagi yang tetap berdiri di lapangan meski kadang pulang paling akhir.
Agar setiap awal bulan, yang datang bukan hanya rasa waswas: “Wah… bulan ini terpotong lagi nggak ya?” 😄
Siapa tahu suatu saat nanti lahir regulasi kecil yang bukan hanya mengatur sanksi, tetapi juga menyisipkan apresiasi. Sebab pengabdian memang tak selalu meminta tepuk tangan, tetapi sesekali mendapat penghargaan tentu bisa menambah semangat perjalanan.
Dan sampai hari itu tiba, para TPP mungkin akan tetap tersenyum, tetap mendampingi, tetap berjalan. Karena mereka tahu, desa terus bergerak dan pengabdian tidak pernah mengenal jam.
Merdeka…! 🇮🇩✨

cerita di luar yang terdokumentasikan itu susah terverifikasi meskipun nyata ada, profesional itu kerja nyata dan terdokumentasikan dalam bentuk laporan. Pendamping dibayar honor karena ada laporan bukan karena cerita...wkwkwkwkwkw..MERDEKAAA
BalasHapusPosting Komentar