Sleman – Pemerintah Kalurahan Balecatur, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus menunjukkan komitmennya dalam membangun kemandirian ekonomi desa berbasis potensi lokal dan ketahanan pangan. Dipimpin oleh Lurah Balecatur, Andri Septiyanto, S.H., Kalurahan Balecatur dikenal memiliki karakter wilayah yang khas, dengan area pertanian subur di bagian utara serta kawasan perbukitan padas atau kapur di wilayah selatan.
Selain aktif mengembangkan tata kelola pemerintahan berbasis e-government dan menjaga harmoni sosial antarwarga, Balecatur juga sukses mengangkat potensi wisata berbasis alam dan edukasi melalui Desa Wisata Daya Gamol. Destinasi ini menawarkan beragam daya tarik, mulai dari peternakan kambing Peranakan Etawa, rumah edukasi sampah, rumah budidaya jamur, hingga kekayaan flora yang menjadi bagian dari pengalaman wisata edukatif bagi pengunjung.
Pada tahun 2025, penguatan ekonomi desa Balecatur semakin nyata melalui peran Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Maju Mapan, yang dinakhodai oleh Sakiyo Indrianto. Total penyertaan modal yang digelontorkan mencapai Rp456.425.000, dengan rincian Rp356.425.000 bersumber dari program ketahanan pangan sebesar 20 persen Dana Desa, serta Rp100.000.000 sebagai penyertaan modal reguler.
Penyertaan modal reguler tersebut dialokasikan untuk pengembangan unit usaha isi ulang air minum dan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Saat ini, unit usaha tersebut masih dalam tahap pembangunan infrastruktur, termasuk persiapan pemasangan mesin produksi yang diharapkan segera beroperasi dalam waktu dekat.
Sementara itu, pada sektor ketahanan pangan, BUMKal Maju Mapan memilih budidaya Terong Jepang (Nasubi) sebagai komoditas unggulan. Budidaya ini dikerjakan melalui kerja sama dengan pihak ketiga, CV Swan Farm, yang memberikan pendampingan secara menyeluruh mulai dari proses pembibitan, pengolahan lahan, hingga pemasaran hasil panen.
“Pendampingan dari mitra menjadi kunci, sehingga pengelolaan lebih terarah dan memiliki kepastian pasar,” ujar Sakiyo Indrianto saat mendampingi kegiatan monitoring di lapangan.
Lahan budidaya terong Jepang yang disiapkan mencapai 4,2 hektare. Saat ini, kegiatan masih berada pada tahap pengolahan lahan, dan diperkirakan penanaman bibit akan dimulai pada pekan depan. Dengan masa tanam yang relatif singkat, sekitar 35–40 hari, tanaman terong Jepang sudah dapat dipanen. Dalam analisis usaha, diproyeksikan bahwa titik impas atau Break Even Point (BEP) dapat dicapai hingga panen ke-8, sebuah perhitungan yang dinilai realistis dan menjanjikan.
Lurah Balecatur, Andri Septiyanto, S.H., menyatakan optimismenya terhadap program tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah kalurahan, BUMKal, dan mitra usaha menjadi fondasi penting dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Terong Jepang atau Nasubi sendiri dikenal sebagai komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi. Berukuran kecil dengan kulit ungu tua mengilap, terong ini memiliki daging padat, cita rasa manis dan gurih, serta kaya serat dan antioksidan. Kandungan vitamin B, C, K, serta mineral seperti kalium, kalsium, dan fosfor menjadikannya populer sebagai bahan pangan sehat, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun pasar modern. Selain itu, terong Jepang relatif mudah dibudidayakan di Indonesia dan memiliki pasar yang terus berkembang.
Pada hari itu, tim monitoring dan evaluasi melakukan peninjauan langsung ke lokasi lahan pertanian untuk melakukan pengecekan kesiapan budidaya. Rombongan diterima oleh jajaran pengurus BUMKal Maju Mapan bersama Lurah Balecatur. Selain meninjau area pertanian, tim juga mengunjungi unit usaha lain, seperti SPAMDes serta lokasi pengelolaan AMDK, guna memastikan seluruh program berjalan sesuai perencanaan.
Dengan sinergi lintas sektor dan pengelolaan yang profesional, Kalurahan Balecatur optimistis mampu menjadikan BUMKal sebagai motor penggerak ekonomi desa, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (guns)